Di pasar valuta asing, rupiah akhirnya ditutup melemah 24 poin ke posisi Rp16.949 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya Rp16.925 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, mata uang Garuda sempat melemah hingga 70 poin.
Purbaya menilai gejolak di pasar keuangan merupakan hal yang pernah dialami Indonesia sebelumnya. Ia mencontohkan sejumlah krisis besar yang berhasil dilalui pemerintah, seperti Krisis Moneter Asia 1997–1998, Krisis Keuangan Global 2008, serta krisis akibat pandemi COVID-19 pada 2020.
Berdasarkan pengalaman tersebut, pemerintah dinilai telah memiliki instrumen kebijakan yang cukup untuk meredam dampak gejolak ekonomi global.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai penyangga apabila terjadi tekanan ekonomi yang lebih besar. APBN akan difungsikan sebagai shock absorber untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik.
Purbaya juga memastikan pemerintah belum berencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi meskipun harga minyak dunia mengalami kenaikan akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
BACA JUGA:Â NTB Perkuat Integrasi Pembangunan Rendah Karbon dalam RPJMD, Dorong Kolaborasi Multipihak
Menurutnya, ruang fiskal pemerintah masih cukup kuat untuk menahan tekanan tersebut sehingga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat tetap terjaga.
Ia juga menegaskan bahwa berbagai indikator ekonomi domestik masih menunjukkan kondisi yang solid, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terhadap spekulasi yang menyebut ekonomi Indonesia menuju resesi.












