Hingga 31 Desember 2025, Cinema XXI mengoperasikan 1.388 layar yang tersebar di 267 bioskop di 56 kota dan 30 kabupaten di seluruh Indonesia. Menurut Suryo, ekspansi jaringan tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk memperluas akses hiburan berkualitas bagi masyarakat.
Sepanjang 2025, CNMA membukukan pendapatan sebesar Rp5,86 triliun atau tumbuh 2,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp5,7 triliun. Penjualan tiket menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp3,6 triliun, diikuti penjualan makanan dan minuman sebesar Rp2 triliun, serta pendapatan lain dari iklan, platform digital, dan penyelenggaraan acara sebesar Rp298 miliar.
Meski pendapatan meningkat, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp704,75 miliar, turun tipis 3,31 persen dibandingkan Rp728,95 miliar pada 2024. Sementara itu, EBITDA perusahaan tercatat mencapai Rp1,8 triliun.
Suryo menilai prospek industri perfilman nasional masih menjanjikan seiring meningkatnya kualitas dan keragaman konten film. Sepanjang 2025, lebih dari 20 film nasional maupun internasional berhasil menarik masing-masing lebih dari satu juta penonton.
Bahkan, dua film nasional yaitu Jumbo dan Agak Laen: Menyala Pantiku! berhasil melampaui 10 juta penonton dan mencetak rekor baru di industri film Indonesia.
BACA JUGA: Lesu di Bioskop, 6 Film Indonesia Ini Sepi Penonton Sepanjang 2025
“Melihat antusiasme penonton dan kualitas konten yang terus berkembang, kami optimistis industri perfilman nasional akan terus bertumbuh. Cinema XXI siap memperkuat perannya melalui ekspansi terukur dan peningkatan standar pengalaman menonton,” ujar Suryo.







