Kolaborasi Sangat Penting
Lebih lanjut, Kurnia menyampaikan bahwa kegiatan ini juga menjadi ajang berbagi pengetahuan antara pendidik, pemerintah, dan masyarakat. Menurutnya, seluruh pihak harus memiliki pemahaman yang sama dalam menerapkan pendidikan inklusi.
Ia menambahkan, meski pemerintah sudah melakukan berbagai pelatihan dan sosialisasi, luasnya wilayah Indonesia membuat peran masyarakat dan swasta menjadi sangat penting. “Kalau hanya pemerintah yang bergerak, tidak mungkin tercapai hasil maksimal. Kita semua, termasuk masyarakat, sekolah, dan orang tua, harus bersama-sama membangun sistem pendidikan inklusif,” ujarnya.
Menurut Kurnia, kearifan lokal masyarakat Indonesia sebenarnya sudah mengandung nilai inklusif. Ia mencontohkan, banyak guru di daerah terpencil menerima anak berkebutuhan khusus dengan alasan kemanusiaan, meski belum memahami konsep inklusi secara formal.
Konferensi ini dihadiri oleh guru, praktisi, pemerhati, terapis, orang tua, dan pihak yang peduli terhadap keberagaman anak. “Harapannya, konferensi ini tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga menghasilkan kebijakan dan aksi nyata di lapangan,” tukasnya.
Sementara itu, Direktur Politeknik Bentara Citra Bangsa, Alice Arianto, menegaskan bahwa KPII 2025 menjadi wadah strategis untuk memperkuat pemahaman para pendidik.
“Kami ingin meningkatkan kemampuan penyelenggara pendidikan inklusif. Mulai dari kesiapan membangun dukungan belajar (learning support) hingga mengembangkan sistem layanan di sekolah reguler,” ujarnya.
BACA JUGA: KPII 2025 Resmi Dibuka, Tekankan Dua Dekade Pendidikan Inklusi di Indonesia
Alice juga menekankan pentingnya pemahaman Response to Intervention (RTI) dan Individualized Education Program (IEP) sebagai bentuk adaptasi pembelajaran. “Saya berharap guru dan praktisi yang hadir membawa gagasan perubahan positif bagi ekosistem pendidikan inklusi di Indonesia,” tambahnya.






