RUANGBICARA.co.id – Linimasa media sosial belakangan ini diramaikan oleh perbincangan mengenai penjual es kue atau es gabus bernama Suderajat (49). Ia sempat dituduh menjual makanan tradisional yang dianggap menggunakan bahan tidak layak pakai, bahkan disebut-sebut terbuat dari spons. Ironisnya, tuduhan tersebut dilayangkan oleh oknum yang mengatasnamakan anggota instansi Polri dan TNI.
Menanggapi tuduhan tersebut, makanan tradisional yang dijual Suderajat langsung dibawa untuk diuji di laboratorium. Hasil pengujian menunjukkan bahwa es gabus tersebut terbukti tidak mengandung bahan berbahaya dan dinyatakan aman untuk dikonsumsi. Atas hasil tersebut, kedua pihak dari instansi terkait menyampaikan permohonan maaf kepada Suderajat. Persoalan ini pun akhirnya diselesaikan secara kekeluargaan.
BACA JUGA: Viral Whip Pink, Kepala BPOM Ungkap Risiko Iskemia di Balik Kematian Lula Lahfah
Di sisi lain, bentuk es gabus atau es kue yang menyerupai spons pencuci piring memang kerap memunculkan kesalahpahaman. Lantas, bagaimana sebenarnya asal-usul makanan tradisional ini dan bahan apa yang membuat tampilannya mirip gabus?
Istilah “es gabus” muncul karena bentuknya yang memanjang dan menyerupai potongan gabus. Sementara itu, sebutan “es kue” merujuk pada proses pembuatannya yang menyerupai pembuatan kue kukus sebelum dibekukan.
Es gabus dikenal luas sebagai jajanan tradisional yang populer pada dekade 1980-an hingga 1990-an. Panganan ini banyak dijumpai di lingkungan sekolah, pasar tradisional, serta dijajakan oleh pedagang keliling. Meski tidak terdapat catatan tertulis yang secara pasti menjelaskan asal daerahnya, es gabus diyakini berkembang di wilayah Pulau Jawa sebelum kemudian dikenal di berbagai daerah lain di Indonesia.
Dalam proses pembuatannya, es gabus menggunakan bahan-bahan sederhana yang mudah diperoleh, seperti tepung hunkwe atau tepung sagu, santan, gula pasir, serta pewarna makanan. Seluruh bahan dimasak hingga mengental, kemudian dicetak memanjang, dipotong kecil-kecil, dan selanjutnya dibekukan. Kesederhanaan bahan dan proses tersebut mencerminkan kreativitas masyarakat dalam mengolah pangan tradisional.
Seiring pesatnya perkembangan makanan modern, jajanan berbahan dasar tepung hunkwe dan sagu ini sempat mengalami penurunan popularitas. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, es gabus kembali diminati sebagai bagian dari tren kuliner bernuansa nostalgia.











