Respons Warganet
Meski memiliki filosofi mendalam, perubahan nama ini menuai beragam respons dari warganet. Sejumlah komentar menilai langkah tersebut sebagai strategi branding yang wajar, terutama untuk membangun kembali kepercayaan publik pasca insiden tabrakan fatal dengan KRL di wilayah Bekasi Timur beberapa waktu lalu.
“Terlepas dari takhayul atau bukan, kalau kita lihat dari kacamata branding dan marketing, pergantian nama dari Argo Bromo Anggrek menjadi KA Anggrek bisa saja merupakan salah satu langkah KAI untuk mengantisipasi trauma bagi para pelanggannya,” tulis akun forysca.
Namun, tidak sedikit pula yang mengaitkan rebranding ini dengan unsur takhayul atau kepercayaan terhadap hal-hal mistis.
“Semoga pergantian nama ini memiliki alasan yang ilmiah, tidak berdasarkan pada keyakinan sial atas suatu musibah,” tulis akun izanmra.
Komentar lain bahkan secara langsung mempertanyakan dasar keputusan tersebut.
“Kok bisa corporate sekelas KAI percaya takhayul/khurofat di tahun 2026 gini?” tulis akun agus_numberone.
Ada pula yang mengaitkan fenomena ini dengan praktik serupa di sektor transportasi lain.
“Selametan yah makanya ganti nama, moga ke depan jadi lebih baik lagi, jadi inget bus Sumber Koncono yang ganti nama jadi Sumber Slamet,” tulis akun mas_dim077.
BACA JUGA: Profil 9 Purnawirawan yang Gugat Polda Metro Jaya Terkait Kasus Ijazah Jokowi
Dengan demikian, perubahan nama KA Anggrek menjadi contoh bagaimana strategi rebranding dapat memunculkan berbagai persepsi di masyarakat. Di satu sisi, langkah ini dipandang sebagai upaya memperkuat citra dan menghadirkan nuansa baru yang lebih menenangkan. Namun di sisi lain, sebagian publik melihatnya sebagai respons emosional yang sarat makna non-rasional.












