Kemudian, Direktur Eksekutif CropLife Indonesia, Agung Kurniawan, menyatakan bahwa baru ada 10 varietas benih bioteknologi yang disetujui penggunaannya, dan itu pun masih dalam skala terbatas.
“Regulasi ketat menjadi kendala utama. Tantangan yang dihadapi petani bisa berubah ketika benih berhasil dikomersialisasi. Padahal petani sangat antusias dan siap mengadopsi teknologi ini secepatnya,” jelasnya.
Keberhasilan Negara Lain dalam Mengadopsi Bioteknologi
Tak hanya itu, Agung mencontohkan keberhasilan beberapa negara Asia, seperti Vietnam dan Filipina, yang telah mengadopsi bioteknologi dan meningkatkan produksi pertanian hingga 30%.
“Pencapaian ini menunjukkan potensi besar bioteknologi dalam memperkuat ketahanan pangan dan kesejahteraan petani. Kami berharap sinergi ini mendorong pengembangan dan komersialisasi benih bioteknologi di pasar, sehingga petani Indonesia merasakan dampak positif yang sama,” tambahnya.
BACA JUGA:Â Harga Beras Meroket, Capai Rp 16 Ribu per Kilogram
Manfaat Penerapan Benih Bioteknologi
Terakhir, sejalan dengan itu, Biotechnology and Seed Manager CropLife Indonesia, Agustine Christela Melviana, menambahkan bahwa penerapan benih bioteknologi memungkinkan petani meminimalisir potensi kehilangan hasil.
“Benih bioteknologi dirancang untuk memiliki sifat unggul. Tanaman yang dihasilkan lebih resisten terhadap hama, gulma, penyakit, atau kondisi lingkungan ekstrem. Dengan pemanfaatan benih bioteknologi, potensi kehilangan hasil pertanian bisa ditekan hingga 10%, meningkatkan produksi panen yang signifikan bagi petani di lahan terbatas,” jelasnya.








