Baca juga: Jerman Jago Gedor Tapi Tembok Prancis Tebal
Ibaratnya jika David Noah mampu membuat enak lagu lewat dentingan keyboardnya, maka Noah Darvich mampu mengenakkan tontonan lewat gerakan kakinya.
Meski skill dan gaya Darvich kerap disebut-sebut menyerupai Messi, tapi saya melihat permainan dan talenta Darvich justru lebih mirip dengan Mesut Ozil (Jerman) atau Angel Di Maria (Argentina).
Dua pemain yang disebut terakhir ini tak hanya lihai mencetak gol, tapi juga paten dalam mengalirkan bola ke jantung pertahanan lawan. Satu lagi, keduanya juga membahayakan kala menyisir dari sektor sayap. Begitu pun dengan Darvich.
Saya jadi teringat perkataan Darvich saat baru tiba di Indonesia dan diwawancarai oleh asosiasi sepakbola Jerman DFB tentang kiprah Tim Jerman U-17 di Indonesia.
“Tentu saja kami berharap tim U-17 Jerman bisa bertahan lama di turnamen ini. Kami tidak akan terbang selama ini (25 jam) hanya untuk bermain sebentar,” kata Darvich.
Kini tinggal selangkah lagi Darvich akan mengawinkan dua piala bergengsi di kancah sepakbola internasional. Jika Piala Eropa sudah direngkuhnya, maka jika Darvich juga mampu membawa Jerman juara Piala Dunia U-17 di Indonesia, maka sebagai kapten tim, Darvich sukses mengawinkan dua piala prestisius sepakbola dunia di batas usia 17 tahun.
Tapi kalau pun Jerman kandas karena Prancis melakukan revans setelah kalah adu penalti oleh der Panzer di Piala Eropa pada Juni lalu, maka nama Darvich akan tetap bersinar terang. Tak hanya di Timnas Jerman, tapi juga di Tim Blaugrana. Viel Glück, Kapitän!






