Tangis Haru di Galeri MasterChef Indonesia: Juri Bingung Harus Pulangkan Tian atau Bunga

RUANGBICARA.co.id – Panggung MasterChef Indonesia Season 13 kembali memakan “korban”. Di babak Top 8 yang kian memanas, Galeri 13 menjadi saksi bisu hancurnya impian salah satu kontestan unggulan. Tekanan tinggi di Pressure Test kali ini benar-benar menjadi jebakan mematikan bagi mereka yang kurang teliti.

Tantangan kali ini terlihat sederhana namun mematikan, yakni membuat pie. Para juri, Chef Juna, Chef Renatta, dan Chef Norman, menegaskan bahwa pilihan antara membuat pie crust sendiri atau menggunakan mashed potato sebagai penutup adalah penentu nasib para kontestan.

BACA JUGA: Talia Tolak Perjodohan, Rahasia Kesehatan Kiblat Nyaris Terbongkar di Sinetron 99 Nama Cinta Episode 2

Sayangnya, banyak kontestan yang terjebak. Bunga, misalnya, dikritik tajam karena adonan pie crust-nya terlalu tipis, ringkih, dan yang paling fatal, belum matang! Kesalahan sepele seperti lupa menggunakan kertas roti saat blind bake berujung pada kegagalan tekstur yang sangat disayangkan juri.

Nasib lebih malang menimpa Tian. Meskipun juri mengakui kombinasi isian pie miliknya memiliki potensi bagus, eksekusi rasanya justru mengecewakan. Setelah deliberasi yang alot, juri memutuskan bahwa perjuangan Tian harus terhenti di Galeri 13.

Momen kepulangan Tian diwarnai suasana haru. Tian mengungkapkan bahwa targetnya adalah mendapatkan Chef Jacket, namun ia harus berlapang dada. Yang lebih menyayat hati, Tian menceritakan motivasi terbesarnya bertahan adalah untuk mendiang ayahnya yang baru saja berpulang. Meski gagal melangkah lebih jauh, Tian mengaku bangga bisa sampai di titik ini.

Setelah Tian pulang, kejutan terjadi saat Bunga dinyatakan masih aman dan berhak melanjutkan ke babak berikutnya meskipun hidangannya penuh kekurangan. Kini, tersisa 7 kontestan yang akan memperebutkan gelar juara.

Sebelum menutup Galeri, Chef Juna memberikan wejangan pedas namun bermakna. Ia mengingatkan para kontestan agar tidak hanya memasak untuk memuaskan ego sendiri. “Kalau cuman bisa mengolah bahan mentah jadi matang, jangan ikut MasterChef Indonesia, percuma!” tegasnya. Kepuasan pelanggan dan penikmat makanan adalah esensi sejati dari seorang koki profesional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed