Kasus Isyana dan Hindia menunjukkan adanya pola di mana musisi yang mencoba keluar dari zona nyaman dan mengeksplorasi sisi gelap manusia, justru kerap terbentur oleh sentimen religiusitas yang kaku di media sosial.
Bagi para penikmat musik progresif, apa yang dilakukan Isyana adalah sebuah mahakarya. Mereka menilai Isyana sedang melakukan “liberasi” atau pembebasan diri sebagai seniman. Musik operatik yang dipadu dengan distorsi gitar dan visual avant-garde adalah bentuk murni dari ekspresi emosi manusia yang kompleks bukan sekadar simbolisme murah untuk mencari sensasi.
Sebuah karya seni yang bagus seringkali memang harus mengusik kenyamanan penikmatnya. Jika “Babel” membuat orang berdebat, artinya Isyana berhasil menyampaikan kegelisahannya. Pada akhirnya, apakah ini sebuah sekte atau seni, semua kembali pada kacamata masing-masing pendengar.
BACA JUGA:Â Apa Itu Sibling Rivalry? Fenomena yang Dikaitkan Usai Penemuan Bayi di Gerobak Nasi Uduk di Pasar Minggu
Satu yang pasti, Isyana tetaplah Isyana: seorang musisi dengan latar belakang klasik yang jenius, yang tidak takut untuk meruntuhkan menaranya sendiri demi membangun sesuatu yang baru dan lebih megah.












