RUANGBICARA.co.id – Bau mulut saat puasa sering dianggap wajar karena kondisi mulut yang kering seharian. Namun, siapa sangka, kondisi tersebut ternyata tidak selalu sekadar akibat kurang minum. Dalam beberapa kasus, bau mulut bisa menjadi tanda adanya penyakit serius.
Hal itu diungkapkan drg. Pandu Kridalaksana, MDSC., Sp.Perio(K), dokter spesialis periodonsia konsultan rekonstruksi periodontal dan implan dental dari RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro dalam talk show yang disiarkan melalui kanal YouTube resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Menurutnya, bau mulut tidak bisa dianggap sepele karena penyebabnya bisa bersifat multifaktorial.
BACA JUGA: Sering Gagal Akses Pintar BI? Ini 5 Tips Buat Kamu Agar Berhasil Tukar Uang Lebaran
drg. Pandu menjelaskan, secara umum bau mulut dibagi menjadi dua jenis, yakni bau mulut sehat dan bau mulut sakit.
Bau mulut sehat biasanya terjadi saat puasa karena produksi air liur menurun. Kondisi mulut yang lebih kering membuat bakteri lebih mudah berkembang dan menghasilkan aroma tidak sedap.
Namun, berbeda dengan bau mulut sakit. Kondisi ini umumnya berkaitan dengan gangguan kesehatan di rongga mulut, seperti: gigi berlubang, karang gigi menumpuk, gusi berdarah, gigi goyah dan infeksi dengan bau khas seperti nanah atau darah.
“Kalau bau mulut sakit itu biasanya lebih khas, cenderung seperti bau infeksi,” jelasnya.
Bisa Jadi Tanda
Yang mengejutkan, bau mulut juga bisa berasal dari gangguan saluran pencernaan, termasuk penyakit lambung kronis.
drg. Pandu mengisahkan pengalamannya menangani pasien yang sudah mendapatkan perawatan gigi menyeluruh, namun bau mulut tetap tidak hilang. Setelah dikonsultasikan ke dokter penyakit dalam, ternyata penyebabnya adalah gangguan lambung.
“Setelah lambungnya diobati, gusinya membaik dan bau mulutnya hilang,” ungkapnya.
Hal ini menunjukkan bahwa bau mulut bisa menjadi sinyal adanya masalah kesehatan sistemik, bukan hanya persoalan kebersihan gigi.
Bau mulut juga erat kaitannya dengan bakteri di rongga mulut. Bakteri yang menumpuk, terutama di sela gigi dan kantong gusi, dapat menghasilkan gas hidrogen sulfida (H2S) yang beraroma menyengat.
Kondisi ini makin mudah terjadi saat puasa karena produksi air liur berkurang. Air liur berfungsi sebagai pembersih alami yang membantu menekan pertumbuhan bakteri.
Jika terdapat karang gigi atau sisa makanan yang tidak terjangkau sikat gigi, bakteri akan berkembang lebih cepat dan memperparah bau mulut.








