Transportasi Sebelumnya
Selain itu, Djoko menjelaskan bahwa sebelum Trans Banjarbakula hadir, kondisi Angkutan Kota Dalam Provinsi (AKDP) jauh dari standar. “Kendaraan tidak berpendingin, tidak ada jadwal pasti, sering berhenti sembarangan, rute bertumpukan, dan armada rata-rata sudah berumur lebih dari 20 tahun,” ungkapnya.
Situasi serupa juga terjadi pada angkutan pengumpan (feeder). “Siswa sekolah tidak mau menggunakan, jadwalnya tidak tentu, dan biaya perpindahan moda cukup tinggi,” tambahnya.
Meski sudah membawa perubahan besar, Trans Banjarbakula masih memiliki pekerjaan rumah yang perlu dibenahi. “Trans Banjarbakula masih memerlukan penambahan tempat perhentian dan sosialisasi sistem pembayaran,” kata Djoko.
Ia menyebut masih banyak warga yang belum mengetahui bahwa sistem pembayaran bus sepenuhnya non-tunai. “Masih banyak pengguna mengira bisa membayar tunai. Padahal sistem pembayarannya menggunakan e-money atau QRIS,” tuturnya.
BACA JUGA: Usai PHK 413 Karyawan, Begini Lika-Liku Perjalanan Indofarma Bertahan di Industri Farmasi Nasional
Dengan demikian, keberadaan Trans Banjarbakula kini menginspirasi pembentukan layanan serupa di wilayah lain di Kalimantan Selatan. “Trans Banjarbakula telah menginspirasi klaster transportasi umum di Banua Anam dan Saijaan Sujud. Bahkan beberapa daerah sudah mengoperasikan layanan seperti Trans Sanggam dan Trans Langsat Manis,” pungkasnya.






