Hindari Perceraian, Jika Tak Ingin Anak Alami Dampak Serius Psikologis Ini

RUANGBICARA.co.id – Perceraian dalam keluarga memang tak selalu bisa dihindari. Namun, setidaknya dapat diminimalisir agar anak tidak menjadi korban dari keputusan orang tua untuk berpisah. Mengapa demikian?

Anak merupakan pihak yang paling rentan mengalami guncangan emosional dan psikologis ketika keutuhan keluarga runtuh. Hilangnya kehadiran salah satu orang tua, berubahnya suasana rumah, hingga konflik berkepanjangan dapat meninggalkan luka batin yang membekas hingga dewasa. Karena itu, menjaga stabilitas keluarga sejatinya bukan semata demi orang tua, melainkan demi masa depan anak yang membutuhkan kasih sayang, rasa aman, dan keutuhan dalam proses tumbuh kembangnya.

BACA JUGA: Viral tapi Tak Tahu? Respons Kocak Rafi Akbar Saat Namanya Terseret Isu Anak Kandung Denada

Berdasarkan literatur (Suprihatin, 2018), disebutkan bahwa anak akan berkembang lebih baik apabila hidup bersama orang tua yang tetap mempertahankan ikatan pernikahan. Dalam artian, keluarga yang tidak stabil memungkinkan terjadinya perkembangan yang membahayakan. Bahkan, anak cenderung memiliki masalah perilaku dan berisiko terjebak dalam kenakalan.

Tak hanya itu, suasana rumah tangga turut memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan dan pendidikan anak usia sekolah dasar (SD). Kondisi ini dapat menyebabkan anak tidak mampu belajar dengan baik, bahkan membawa pengaruh negatif terhadap perkembangan jiwa anak dalam masa pertumbuhannya. Hal ini terjadi karena kepribadian anak umumnya terbentuk melalui pengalaman yang didapatkan pada masa kecil. Dengan demikian, pengalaman pahit maupun menyenangkan yang dialami anak akan memberikan pengaruh dalam kehidupannya di masa mendatang.

Risiko Sosial dan Emosional Anak

Berdasarkan riset, sekitar 25% anak hasil perceraian pada masa dewasa awal mengalami masalah serius secara sosial, emosional, atau psikologis, dibandingkan hanya 10% pada anak yang orang tuanya tetap hidup bersama. Anak dalam keluarga orang tua tunggal memang dapat menjalani kehidupan dengan baik, namun cenderung mengalami hambatan dalam urusan sosial dan pendidikan dibandingkan anak yang tinggal bersama kedua orang tuanya.

Akibatnya, anak-anak yang mengalami perceraian orang tua akan merasa takut mencari pasangan hidup dan takut menikah karena dibayangi kekhawatiran akan terjadinya perceraian. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka juga dapat merasa malu, kurang disiplin, serta mengalami kesedihan yang mendalam (Wati, 2010).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *