BPOM Dorong Segitiga Emas ABG untuk Percepat Pertumbuhan Ekonomi Nasional

“Saya ingin membangun jembatan yang kuat antara akademi dan bisnis. Jika segitiga ABG ini kokoh, semua akan bergerak bersama—pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha,” tegas Taruna.

Ia menambahkan, kolaborasi lintas kementerian juga terus diperkuat, mulai dari Kementerian Kesehatan, Pendidikan Tinggi, Pendidikan, Perdagangan, Perindustrian, hingga Kementerian Agama, terutama terkait penguatan ekosistem sertifikasi halal.

Taruna optimistis, dengan kekayaan sumber daya alam dan biodiversitas—termasuk lebih dari 31 ribu spesies dan ribuan potensi bahan baku obat asli—Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi negara berpendapatan tinggi.

“Indonesia itu sangat kaya. Kita punya laut, tanah, biodiversitas, dan sumber daya manusia yang besar. Jika ini dikelola dengan kolaborasi yang tepat, kontribusinya terhadap PDB bisa sangat signifikan,” ungkapnya.

Ia memperkirakan, kolaborasi ABG berpotensi menyumbang 25–40 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), bahkan dengan nilai ekonomi yang bisa mencapai ribuan triliun rupiah melalui inovasi, pendidikan, dan penciptaan lapangan kerja.

Buka Akses Pasar Global

Terakhir, Taruna menyampaikan capaian penting BPOM yang kini telah diakui oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai lembaga regulator dengan tingkat maturitas tertinggi di sektor farmasi.

“Ini adalah pencapaian yang baik, dan ini juga membuat negara kita, membuat institusi kita, membuat orang-orang kita, lebih percaya, dan membuat BPOM optimis karena kita memiliki pasar global yang sangat baik,” imbuhnya.

Dengan penguatan segitiga emas ABG, BPOM meyakini Indonesia mampu melaju lebih cepat, tidak hanya sebagai pasar, tetapi sebagai pemain utama dalam industri berbasis sains, teknologi, dan inovasi di tingkat global.

BACA JUGA: BPOM Ungkap 8 Obat Palsu yang Beredar, Ini Daftarnya

“Melalui konsep ABG ini, Indonesia dapat berlari sejajar dengan dunia dan menjadi salah satu negara penting yang memiliki kekuatan di bidang sains dan teknologi. Tidak hanya itu, kita juga berbicara tentang globalisasi standar. Kabar baiknya, BPOM kini telah mencapai tingkat maturitas tertinggi di bidang farmasetika dan telah diakui oleh WHO,” pungkas Taruna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *