RUANGBICARA.co.id – Dunia sinema Indonesia mungkin sudah sangat akrab dengan gombalan maut di atas motor CB dan jaket jins ikonik tahun 90-an. Namun, jika Anda mengira kisah Dilan telah usai setelah air mata jatuh di perpisahan dengan Milea, Anda keliru. Ancika: Dia yang Bersamaku 1995 hadir bukan sebagai pelipur lara, melainkan sebagai babak pendewasaan yang jauh lebih tangguh.
Memasuki tahun 1995, kita tidak lagi melihat Dilan yang hobi tawuran tanpa arah. Dilan sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir yang lebih tenang, namun tetap dengan selera humor yang “ajaib”. Di sinilah ia bertemu dengan Ancika Mehrunisa Rabu.
BACA JUGA: Jangan Sampai Ketinggalan! 5 Film Paling Dinanti yang Bakal Mengguncang Bioskop Januari 2026
Berbeda dengan Milea yang lembut dan puitis, Ancika adalah antitesis dari semua mantan kekasih Dilan. Ia adalah gadis SMA yang mandiri, sangat keras kepala, benci geng motor, dan menganggap cinta adalah distraksi yang tidak perlu. Ancika bukan tipe gadis yang akan tersipu malu saat dipuji. Ia justru akan menantang balik dengan logika yang tajam.
Film ini menyoroti bagaimana Dilan harus mengerahkan seluruh kreativitasnya untuk sekadar mendapatkan perhatian Ancika. Tidak ada lagi cara-cara instan. Ancika adalah benteng yang sulit ditembus karena ia memiliki prinsip yang kuat dan latar belakang keluarga yang protektif.
Dilan pun harus bertransformasi. Ia bukan lagi sang Panglima Tempur, melainkan sosok abang, teman diskusi, hingga guru les dadakan demi bisa berada di dekat Ancika. Penonton diajak melihat bagaimana sebuah hubungan dewasa dibangun di atas rasa hormat dan kesabaran, bukan sekadar ketertarikan fisik semata.
Mengapa Film Ini Layak Ditonton (Lagi) di 2026?
Ada beberapa alasan mengapa kisah ini tetap relevan dan terasa segar:










