Kerja Sama Internasional
Pada pembukaan KPII 2025, turut dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Vrije Universiteit (VU) Amsterdam, Belanda. Kerja sama ini mencakup pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
“Di Belanda, mereka sudah punya village untuk anak berkebutuhan khusus, tempat mereka hidup, bekerja, dan mendapat dukungan. Pengalaman ini bisa jadi pembelajaran bagi kita,” ujar Kurnia.
Sebagai bagian dari kerja sama, VU Amsterdam merilis buku edukasi bermain untuk anak berkebutuhan khusus dalam bahasa Indonesia. Buku ini dapat diakses secara gratis oleh masyarakat Indonesia melalui tautan daring yang disediakan.
Kurnia mengakui, pemerintah telah mengalokasikan dana pendidikan sesuai amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, yakni minimal 20% dari APBN dan APBD. Namun, menurutnya, keberhasilan pendidikan inklusif tidak hanya bergantung pada pemerintah.
“Kalau hanya pemerintah saja yang bergerak, tidak mungkin. Harus ada kerja sama dengan sekolah, masyarakat, orang tua, dan pihak swasta,” tegasnya.
Ia juga menilai, masyarakat Indonesia sejatinya sudah memiliki kearifan lokal yang mendukung inklusi. Di beberapa daerah, guru mau menerima anak berkebutuhan khusus meski belum memahami konsep inklusi secara formal.
“Alasannya sederhana, kalau bukan kami yang membantu mendidik mereka, lalu siapa lagi? Itulah bentuk budaya inklusi kita,” jelas Kurnia.
Konferensi ini dihadiri oleh pendidik, praktisi, pemerhati, terapis, orang tua, hingga akademisi yang peduli terhadap keberagaman anak. Tahun ini menjadi penyelenggaraan keempat KPII, setelah sebelumnya diadakan pada 2013, 2019, dan 2022 (secara virtual).
Kurnia berharap, KPII dapat terus dilaksanakan secara rutin sebagai wadah berbagi gagasan dan membangun jejaring. Ia juga mendorong peningkatan sosialisasi pendidikan inklusif yang tidak hanya berfokus pada anak berkebutuhan khusus, tetapi juga keberagaman peserta didik.
BACA JUGA: 175 Ribu Siswa Disabilitas Terancam Tak Terlayani Akibat Kekurangan Guru
“Kita perlu memastikan semua sekolah memiliki budaya inklusif, karena pada akhirnya semua sekolah akan menjadi inklusif,” pungkasnya.










