Demonstrasi di Tengah Akumulasi Kekecewaan Rakyat

Prabowo menekankan, menyuarakan pendapat adalah hak yang dijamin undang-undang, bahkan konvensi internasional. Tetapi, ketika aksi berubah menjadi penjarahan rumah pejabat atau pembakaran kantor pemerintahan, negara harus hadir. “Kepada Polri dan TNI saya perintahkan, ambil tindakan tegas terhadap segala bentuk pengrusakan, penjarahan, maupun teror. Semua sesuai hukum yang berlaku,” ucapnya.

Pidatonya ditutup dengan seruan persatuan. “Indonesia di ambang kebangkitan. Jangan mau diadu domba. Sampaikan aspirasi dengan damai, tanpa merusak fasilitas umum. Kalau merusak, itu artinya menghamburkan uang rakyat,” tukasnya.

Rakyat Punya Cara Sendiri

Namun, tak semua pihak yakin pidato itu mampu meredakan amarah rakyat. Pengamat politik Adi Prayitno menilai gelombang demonstrasi adalah cermin bahwa negara sedang tidak baik-baik saja. “Di saat banyak orang susah, tunjangan pejabat malah dinaikkan. Saat rakyat sibuk bertahan hidup, mereka rangkap jabatan, pajak naik pula. Ketika rakyat protes, malah dicaci dengan bahasa sarkas. Lalu siapa yang salah? Rakyat atau penguasa?” kritik Adi dalam unggahan Instagram pribadinya, Minggu (31/8/2025).

Ia juga menilai masyarakat kini semakin apatis terhadap tokoh besar maupun organisasi mapan. “Rakyat sudah tak lagi percaya pada ormas dan tokoh yang diam melihat ketidakadilan. Mereka memilih turun langsung ke jalan. Itu cara mereka meluapkan kekecewaan,” tegasnya.

Sesungguhnya, gelombang amarah ini bukan muncul tiba-tiba. Bertahun-tahun publik menyaksikan praktik rangkap jabatan, jabatan strategis yang dibagi-bagi, hingga fasilitas mewah yang dinikmati elite politik.

Semua itu menumpuk menjadi bara dalam dada rakyat. Peristiwa terlindasnya ojol oleh barracuda Brimob hanyalah pemicu eskalasi membesar. Di balik itu, ada rasa lelah melihat pejabat sibuk menambah tunjangan ketika rakyat masih berjuang melawan mahalnya harga kebutuhan pokok.

Kini, rakyat benar-benar bersuara. Dan kali ini, suara mereka bukan hanya lewat spanduk dan pengeras suara, melainkan juga lewat kobaran api yang menghanguskan gedung-gedung simbol kekuasaan. Bisa saja, aksi massa yang dianggap brutal ini merupakan peringatan keras, bahwa ada jarak yang kian menganga antara rakyat dan penguasa.

BACA JUGA: Putusan MK Larang Wamen Jadi Komisaris Tak Digubris Prabowo

Jika suara rakyat terus diabaikan, sejarah telah menunjukkan bahwa arogansi kekuasaan selalu berakhir dengan perlawanan. “Ketika rakyat melawan, itu bukan sekadar soal tunjangan. Ini tentang harga diri, tentang keadilan, dan tentang rasa memiliki negeri ini,” ujar seorang demonstran di Jakarta, suaranya parau karena gas air mata, namun matanya menyala penuh keyakinan.

Catatan Redaksi:

Stay safe, tetap tenang, dan jangan sampai terprovokasi. Amati situasi dengan bijak, hindari kerumunan berisiko, serta selalu utamakan keselamatan diri dan orang di sekitar. Jangan ada lagi, Affan Affan selanjutnya. Karena, keselamatan pribadi tetap prioritas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *