RUANGBICARA.co,id, Jakarta – Program Mudik Motor Gratis (Motis) yang digagas Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dinilai tidak lagi efektif menekan angka pemudik sepeda motor saat Lebaran. Oleh karena itu, pengamat transportasi Djoko Setijowarno, meminta agar program tersebut dihentikan dan anggarannya dialihkan untuk menambah kuota bus dan kereta api gratis.
Menurut Djoko, sejak pertama kali berjalan pada 2014, program Mudik Motor Gratis hanya mampu menyerap kurang dari 1 persen pemudik motor setiap tahunnya. Angka tersebut dinilai terlalu kecil untuk memberikan dampak signifikan terhadap pengurangan kepadatan dan risiko kecelakaan di jalan raya.
“Daripada mempertahankan program yang tidak signifikan ini, lebih baik dihentikan dan dialihkan untuk menambah kuota bus dan kereta api gratis yang lebih efektif dan aman,” tegasnya dalam keterangan resmi yang diterima Ruang Bicara, Minggu (22/2/2026).
BACA JUGA: Sejak 2005 Motor Jadi Andalan Mudik, Pakar Transportasi Ungkap Penyebabnya Karena Ini
Lanjut, kata Djoko, sepeda motor memang bukan kendaraan yang dirancang untuk perjalanan jarak jauh. Namun sejak sistem kredit kendaraan dipermudah pada 2005, motor menjadi pilihan utama masyarakat untuk mobilitas, termasuk mudik Lebaran. Itu sebabnya, produksi sepeda motor melonjak dari sekitar 3 juta unit per tahun menjadi 8 juta unit. Lonjakan ini, menurut Djoko, berbanding lurus dengan tingginya angka kecelakaan lalu lintas yang melibatkan kendaraan roda dua.
Berdasarkan survei Badan Kebijakan Transportasi Kemenhub terkait pergerakan masyarakat Lebaran 2026, dikutip Djoko, mobil pribadi masih menjadi moda favorit dengan 76,24 juta pengguna (52,98 persen). Sepeda motor berada di posisi kedua dengan 24,08 juta pengguna atau 16,74 persen.
Data Korlantas Polri hingga 17 Februari 2026 juga, tutur dia, mencatat jumlah sepeda motor di Indonesia mencapai 146,3 juta unit, atau sekitar 84 persen dari total kendaraan bermotor nasional. Artinya, hampir setiap rumah tangga memiliki sepeda motor.
Tambah Kuota Bus dan Kereta Gratis
Oleh sebab itu, Djoko menilai solusi yang lebih masuk akal adalah memperbanyak kuota mudik gratis melalui bus dan kereta api. Selain itu, opsi mudik via kapal laut menuju Semarang atau Surabaya juga dinilai efektif untuk memangkas waktu tempuh hingga tujuh jam perjalanan darat.
Untuk arus mudik ke Lampung, ia menyoroti minimnya akses angkutan umum dari Pelabuhan Bakauheni ke ibu kota kabupaten/kota. Karenanya, pemerintah diminta menyediakan layanan mudik gratis dari Bakauheni ke seluruh kabupaten/kota di Lampung, serta memperbanyak bus gratis dari Jabodetabek menuju berbagai daerah di provinsi tersebut.
“Penyediaan bus gratis dan kemudahan pendaftarannya adalah kunci mengalihkan pemudik motor ke moda yang lebih aman,” ujarnya.
Ia menambahkan, di Pulau Jawa akses dari stasiun atau terminal ke tujuan akhir relatif mudah karena tersedianya angkutan lanjutan dan dukungan keluarga. Dengan demikian, pemudik tidak harus membawa sepeda motor dari kota asal.












