Profil Dato’ Low Tuck Kwong
Lahir di Singapura pada 17 April 1948, Low Tuck Kwong memutuskan untuk mengadu nasib di Indonesia pada tahun 1972. Langkah beraninya ini terbukti tepat. Berawal dari mendirikan perusahaan kontraktor pekerjaan tanah (PT Jaya Sumpiles Indonesia), ia kemudian berekspansi ke dunia pertambangan.
Pada tahun 1997, ia mengakuisisi tambang batu bara melalui PT Bayan Resources. Di bawah kepemimpinannya, Bayan Group tumbuh menjadi raksasa energi yang membawanya masuk ke jajaran puncak orang terkaya di Indonesia versi Forbes, bersaing ketat dengan duo Hartono (Grup Djarum).
Meski dikenal sebagai pebisnis ulung yang “dingin” di meja perundingan, Low Tuck Kwong memiliki sisi lembut yang jarang diketahui publik sebagai pencinta satwa, dermawan tersembunyi, serta WNI yang setia. Meski lahir di Singapura, ia telah resmi menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) sejak tahun 1992 dan menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk membangun industri di tanah air.
Dalam dunia seni, harga sebuah karya seringkali bersifat subjektif. Namun, angka Rp6,5 miliar untuk lukisan SBY mencerminkan perpaduan antara nilai historis pelukisnya (seorang mantan Presiden) dan kualitas artistik yang semakin matang. Bagi Low Tuck Kwong, angka tersebut adalah investasi sekaligus bentuk penghormatan terhadap persahabatan dan dedikasi SBY terhadap dunia seni di masa pensiunnya.
Data Singkat
-
Perusahaan Utama: PT Bayan Resources Tbk (BYAN).
-
Total Kekayaan: Diperkirakan mencapai puluhan miliar dolar AS (masuk Top 3 Orang Terkaya Indonesia).
BACA JUGA: Sering Gagal Akses Pintar BI? Ini 5 Tips Buat Kamu Agar Berhasil Tukar Uang Lebaran
-
Sektor Bisnis: Pertambangan, Energi Terbarukan, dan Infrastruktur Pelabuhan.






