Produksi Lebih Niat
Selanjutnya, Agak Laen Menyala Pantiku tampil dengan kualitas produksi yang jauh lebih serius. Opening film disajikan seperti adegan aksi kelas atas, lengkap dengan koreografi yang rapi dan humor yang tetap efektif.
Bagian penyamaran para pemain menjadi lansia di panti jompo juga banjir pujian. Make up tebal yang realistis membuat adegan terasa lucu tanpa terlihat murahan.
“Lebih niat daripada film yang benar-benar pemainnya jadi kakek-nenek,” komentar seorang reviewer.
Tidak hanya itu, film ini juga memperlihatkan perhatian pada detail, mulai dari penggantian nama lokasi menjadi “Yamakarta” hingga desain kantor polisi versi parodi. Semua itu membuat film terasa hidup dan total digarap dengan keseriusan tinggi.
Sejak early screening, hampir semua studio dilaporkan penuh. Penonton kompak tertawa keras hampir di setiap adegan komedi.
“Lucunya keterlaluan. Satu bioskop ketawa semua,” kata reviewer Cine Crib.
Di sisi lain, momen dramatis — seperti hubungan Boris dengan anaknya dan dinamika geng — juga mengalir mulus tanpa mengganggu ritme komedi.
Tetap Menghibur
Meski berdurasi dua jam, film ini sama sekali tidak terasa panjang. Alurnya rapi, karakter diperkenalkan dengan baik, dan komedi disebar merata sehingga penonton tetap terhibur dari awal hingga akhir.
Ending-nya juga diberi sentuhan memuaskan, terutama terkait tokoh kakek yang menjadi pusat konflik di panti jompo.
BACA JUGA: Ini Rekomendasi 50 Film Netflix 18+ yang Jarang Diketahui, Nomor 34 Paling Hot dan Seru
Dengan komedi yang cerdas, konflik yang lebih dalam, dan produksi yang total, Agak Laen: Menyala Pantiku berhasil menjadi sekuel yang lebih matang dibanding pendahulunya.
Tak heran bila banyak penonton memprediksi film ini akan kembali mencetak jutaan penonton seperti film pertama..










