RUANGBICARA.co.id – Pemerintah terus mengakselerasi transformasi sektor logistik nasional melalui pengembangan dry port di kawasan industri strategis. Salah satu proyek yang kini menjadi sorotan adalah pembangunan Dry Port di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), yang diproyeksikan menjadi simpul penting dalam rantai distribusi barang di Jawa Tengah sekaligus memperkuat konektivitas kawasan ekonomi kreatif dan industri manufaktur.
Langkah ini ditandai dengan kolaborasi lintas BUMN dan pemerintah daerah, yakni antara PT Kereta Api Indonesia, PT Pelabuhan Indonesia, PT Kawasan Industri Terpadu Batang, dan PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah. Sinergi ini diwujudkan melalui penandatanganan nota kesepahaman pembangunan sistem logistik berbasis rel di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang pada April 2026.
BACA JUGA: Komitmen Keterbukaan, Denpasar Targetkan Lebih Banyak Badan Informatif
Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Ali Murtopo, menegaskan bahwa pembangunan dry port ini bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan strategi besar untuk memangkas biaya logistik nasional yang selama ini menjadi salah satu tantangan utama daya saing industri.
“Pembangunan Dry Port KITB merupakan langkah nyata untuk meningkatkan efisiensi distribusi barang dan memperkuat daya saing produk Indonesia,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (29/4/2026).
Arahan tersebut sejalan dengan visi Airlangga Hartarto yang menempatkan dry port sebagai instrumen strategis dalam reformasi sistem logistik nasional. Sebagai Ketua Satgas Percepatan Program Pemerintah, Airlangga menilai kehadiran dry port akan mempercepat arus barang, menekan biaya distribusi, dan menciptakan sistem logistik yang lebih modern dan terintegrasi.
Secara konsep, dry port berfungsi sebagai “pelabuhan darat” yang menghubungkan kawasan industri dengan pelabuhan utama melalui jaringan kereta api. Dalam konteks kawasan ekonomi kreatif, keberadaan fasilitas ini membuka peluang distribusi produk kreatif, mulai dari fesyen, kriya, hingga produk digital berbasis fisik agar lebih cepat menjangkau pasar domestik maupun global. Dengan demikian, pelaku usaha kreatif tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pelabuhan laut yang sering menghadapi kepadatan.








