Ketika Perang Dunia I pecah, Tsar Nicholas II memutuskan untuk memimpin pasukan di garis depan, meninggalkan pemerintahan di tangan Tsarina Alexandra. Dalam situasi ini, Rasputin menjadi penasihat utama Tsarina, yang sangat mempercayai nasihat spiritualnya.
Namun, pengaruhnya yang semakin besar tidak hanya menciptakan ketegangan di kalangan elit politik, tetapi juga memicu berbagai skandal dan kontroversi di masyarakat.
Meskipun dianggap sebagai seorang penyembuh suci oleh banyak pengikutnya, Rasputin juga dikenal karena gaya hidupnya yang hedonistik. Pesta-pesta liar yang sering dia adakan, serta rumor tentang hubungannya dengan banyak wanita bangsawan, memperkuat citra dirinya sebagai sosok yang penuh dengan kontroversi dan misteri.
Tak heran, sejumlah bangsawan dan pejabat tinggi mulai khawatir akan pengaruh besar Rasputin terhadap keluarga kerajaan.
Pembunuhan yang Memicu Legenda
Ketegangan yang terus meningkat akhirnya memuncak pada 30 Desember 1916, ketika sekelompok bangsawan, dipimpin oleh Pangeran Felix Yusupov dan politisi konservatif Vladimir Purishkevich, merencanakan pembunuhan Rasputin.
Konspirasi ini terjadi di Istana Yusupov di St. Petersburg. Awalnya, para konspirator mencoba meracuni Rasputin dengan sianida, namun racun itu tidak mempan. Dalam kepanikan, mereka kemudian menembak Rasputin beberapa kali, tetapi dia masih mencoba melarikan diri sebelum akhirnya ditembak di kepala dan jasadnya dibuang ke Sungai Neva.
Meskipun Rasputin akhirnya tewas, misteri seputar kematiannya tetap hidup. Otopsi yang dilakukan menunjukkan bahwa penyebab kematiannya adalah tenggelam, bukan luka tembak, yang menambah lapisan misteri pada sosoknya.
BACA JUGA:Â Tan Malaka: Perlunya Persatuan antara Komunisme dan Pan-Islamisme
Setelah kematiannya, Rasputin tetap dikenal sebagai simbol kemerosotan moral dan korupsi yang melanda Kekaisaran Rusia menjelang Revolusi Bolshevik. Banyak yang melihatnya sebagai penyebab utama kejatuhan Dinasti Romanov, meskipun kenyataannya jauh lebih kompleks.












