Nilam Aceh Tercium Sampai Prancis

Petani Aceh Kembangkan Minyak Nilam yang Mengharumkan Parfum Prancis

Jakarta – Di balik keharuman parfum Prancis yang terkenal, terselip cerita menarik mengenai peran petani dari Aceh.

Terbukti, minyak nilam dari Aceh turut andil dalam keharuman parfum asal Prancis. Bagaimana bisa terjadi? Simak kisahnya berikut ini.

Minyak Nilam: Bahan Rahasia di Balik Parfum Berkualitas

Minyak nilam atau “atsiri”, bahan rahasia parfum, dihasilkan dari ekstraksi daun nilam dan penting dalam parfum berkualitas.

Teknologi Baru: Molecular Distillation

Menurut Syaifullah Muhammad, Ketua Atsiri Research Center (ARC) dan Dosen Teknik Kimia Universitas Syah Kuala, Aceh, mengatakan bahwa kurangnya teknologi dapat diatasi dengan molecular distillation untuk menghasilkan minyak nilam berkualitas tinggi untuk parfum tahan lama.

“Ini masalahnya, karena kita tidak menguasai teknologinya. Tapi dalam lima tahun terakhir saya kembangkan ini dengan Pusat Riset Atsiri di Universitas Syah Kuala (Banda Aceh) dan kita melakukan yang disebut molecular distillation,” ujarnya di InaRI Expo 2023 yang berlangsung di Cibinong, Jawa Barat Kamis, (21/9/2023).

“Dengan minyak nilam ini, parfum bisa bertahan hingga delapan jam,” tambah Dosen Teknik Kimia Universitas Syah Kuala ini

Nilam Aceh Memasuki Pasar Internasional

Syaifullah juga terlibat dalam membina koperasi dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam memproduksi minyak nilam. Saat ini, 80% minyak nilam dari Aceh diekspor ke luar negeri, sementara 20% sisanya tetap berada di pasar lokal.

“Saat ini ada tiga perusahaan parfum asal Prancis yang sudah MoU dengan kami. Kalau perusahaan nasional sudah banyak,” lanjut dia.

Baca juga: InaRI Expo 2023: Kreativitas Riset dan Inovasi untuk Indonesia yang Lebih Maju

Hilirisasi Nilam: Meningkatkan Ekonomi Petani

Nilam Aceh yang tadinya kurang diminati di tingkat petani kini menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi.

“Makanya tahun 2015, saya diminta Pemerintah Aceh untuk meneliti mengapa nilam Aceh diperlukan dunia internasional tapi petaninya miskin,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *