Selain itu, perceraian sangat berpengaruh terhadap psikologis anak karena mereka kehilangan cinta dari kedua orang tuanya. Kondisi ini menyebabkan salah satu aspek perkembangan anak menjadi terhambat. Sebab, anak-anak dari orang tua yang bercerai sering kali kurang mendapatkan perhatian, perlindungan rasa aman, serta kasih sayang dari ayah dan ibunya.
Dengan demikian, anak yang ditinggalkan akibat perceraian orang tua akan merasakan dampak negatif yang sangat besar. Mereka mengalami kebingungan dalam menentukan harus ikut siapa di antara kedua orang tuanya. Dampak lainnya juga bisa memunculkan pandangan bahwa pernikahan merupakan sesuatu yang buruk. Dan, anak juga dapat memandang orang dewasa sebagai sosok yang egois, tidak bertanggung jawab, dan hanya memikirkan diri sendiri.
Faktor Penyebab Perceraian
Oleh karena itu, dari persoalan inilah penting bagi para orang tua untuk menghindari hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya perceraian. Bukan hanya faktor ekonomi, tetapi juga berbagai faktor lainnya.
Mengutip George Levinger pada tahun 1996 (dalam Moh. Mahfud, 2006:203), berikut sejumlah kategori keluhan yang dapat menyebabkan terjadinya perceraian; diantaranya, adalah:
- Pasangan sering mengabaikan kewajiban terhadap rumah tangga dan anak, seperti jarang pulang ke rumah, tidak adanya kepastian waktu di rumah, serta minimnya kedekatan emosional.
- Masalah keuangan, di mana penghasilan tidak mencukupi kebutuhan keluarga.
- Adanya penyiksaan fisik terhadap pasangan.
- Pasangan sering berteriak atau mengeluarkan kata-kata kasar yang menyakitkan.
- Ketidaksetiaan, seperti memiliki kekasih lain atau melakukan perzinaan.
- Ketidakcocokan dalam hubungan seksual.
- Kebiasaan mabuk.
- Campur tangan dan tekanan sosial dari pihak kerabat pasangan.
- Munculnya kecurigaan, kecemburuan, dan ketidakcocokan.
- Berkurangnya perasaan cinta yang ditandai dengan minimnya komunikasi, perhatian, dan kebersamaan.
- Tuntutan yang dianggap terlalu berlebihan sehingga menimbulkan ketidaksabaran dan kurangnya toleransi.
Selain itu, faktor penyebab perceraian juga meliputi faktor pendidikan, usia dalam perkawinan, ekonomi, perselingkuhan, campur tangan orang tua dalam rumah tangga, serta faktor perselisihan atau kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Secara kesimpulan, perceraian bukan hanya persoalan antara suami dan istri, melainkan peristiwa besar yang membawa dampak mendalam bagi kehidupan anak. Anak menjadi pihak paling rentan mengalami guncangan emosional, psikologis, hingga sosial akibat hilangnya keutuhan keluarga. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak dari keluarga yang bercerai memiliki risiko lebih besar mengalami masalah perilaku, kesulitan belajar, hambatan sosial, serta pandangan negatif terhadap pernikahan di masa depan.
BACA JUGA:Â Fokus ke Anak, Perceraian Dahlia Poland & Fandy Christian Tuai Simpati Publik
Oleh karena itu, menjaga keutuhan rumah tangga sejatinya merupakan upaya melindungi masa depan anak. Jika pun konflik tidak dapat dihindari, orang tua perlu meminimalkan dampaknya dengan menghadirkan kasih sayang, rasa aman, dan perhatian yang cukup. Dan, kesadaran untuk menghindari faktor-faktor penyebab perceraian menjadi langkah penting agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara sehat, baik secara emosional maupun psikologis.












