Jarang Diketahui, Cara Mandi Wajib Pria Tak Serumit yang Dibayangkan

RUANGBICARA.co.id – Banyak pria masih menganggap cara mandi wajib pria sebagai ritual yang rumit, harus dilakukan dengan urutan ketat, mengguyur kepala tiga kali, serta wajib memakai sampo dan sabun. Anggapan ini ternyata tidak sepenuhnya benar.

Buya Yahya, pengasuh Lembaga Pengembangan Da’wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah, Cirebon menjelaskan bahwa mandi wajib atau mandi junub memiliki prinsip utama yang sering luput dipahami jamaah.

“Mandi besar itu cukup meratakan air yang bisa dipakai wudu ke sekujur tubuh. Yang penting merata, tidak harus tiga kali,” ujar Buya Yahya dalam kajian yang ditayangkan di kanal YouTube Al-Bahjah TV, dikutip Sabtu (31/1/2026).

BACA JUGA: Tata Cara Mandi Junub: Panduan Lengkap dan Kesunnahan

Adapun, kata Buya Yahya, mandi wajib pria dilakukan setelah hubungan suami istri, mimpi basah hingga keluar mani, serta kondisi lain yang mewajibkan bersuci sebelum menunaikan salat. Namun, menurut Buya Yahya, sah atau tidaknya mandi wajib tidak ditentukan oleh jumlah guyuran air ke kepala.

“Sekali nggak pakai tiga kali itu sah. Tiga kali itu kesunahan dalam membasuh,” jelasnya.

Di sisi lain, Buya Yahya juga meluruskan anggapan bahwa mandi wajib harus selalu dilakukan secara sempurna dengan keramas, sabun, atau sampo. Ia menilai pemahaman ini justru kerap membuat seseorang menunda mandi hingga akhirnya kehilangan waktu salat.

“Ada sebagian orang ingin mandi lengkap pakai sampo, sabun, lulur, segala macam, akhirnya salatnya ketinggalan,” tuturnya.

Apalagi, misal, dalam kondisi waktu salat yang sudah sangat mepet, Buya Yahya menganjurkan mandi wajib dilakukan secara sederhana terlebih dahulu agar seseorang tetap bisa menunaikan salat tepat waktu.

“Kalau waktunya mendesak, cukup guyur-guyur langsung salat. Setelah itu, kalau mau, mandi lagi disempurnakan,” katanya.

Dengan demikian, Buya menegaskan, inti cara mandi wajib pria adalah air harus mengenai seluruh tubuh, termasuk rambut yang masih menempel di kepala. Sementara rambut yang sudah terpotong tidak perlu dimandikan.

“Rambut yang masih nempel itu yang kena air. Yang sudah dipotong nggak perlu,” terang Buya Yahya.

Pemahaman ini, menurut Buya Yahya, sangat penting agar umat Islam tidak terjebak pada hal-hal sunnah, tetapi justru meninggalkan kewajiban utama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed