RUANGBICARA.co.id – Bagaimana rasanya ketika seluruh duniamu hancur dalam hitungan detik karena kesalahan teknis seseorang? Itulah premis menyesakkan yang diusung oleh film Aftermath. Terinspirasi dari kisah nyata kecelakaan pesawat di Überlingen tahun 2002, film ini membawa penonton masuk ke dalam labirin emosi dua pria yang hidupnya hancur karena satu tragedi yang sama.
Roman Melnyk (Arnold Schwarzenegger) adalah seorang pekerja konstruksi yang sedang menantikan kepulangan istri dan putrinya yang sedang hamil. Namun, kebahagiaan itu berubah menjadi mimpi buruk saat ia tiba di bandara dan mendapati bahwa pesawat yang ditumpangi keluarganya mengalami kecelakaan hebat di udara.
BACA JUGA: Syifa Hadju Menjemput Bahagia, Antara Khusyuknya Siraman dan ‘Teguran’ Ahmad Dhani untuk El Rumi
Di sisi lain, ada Jake Bonanos (Scoot McNairy), seorang petugas pengawas lalu lintas udara (air traffic controller). Pada malam kejadian, serangkaian kegagalan teknis dan situasi yang tidak menguntungkan membuat Jake memberikan instruksi yang salah, yang berujung pada tabrakan dua pesawat.
Film ini secara brilian membagi fokusnya pada dua perspektif yang berbeda namun saling berkaitan. Sudut pandang Roman, ia tidak menginginkan uang asuransi atau kompensasi jutaan dolar. Yang ia butuhkan hanyalah satu hal sederhana namun sulit didapat: permintaan maaf yang tulus. Arnold Schwarzenegger memberikan performa yang sangat rapuh dan sunyi, jauh dari citra action hero-nya.
Sedangkan pandangan Jake (sang penyebab), ia dihantui oleh rasa bersalah yang melumpuhkan. Jake kehilangan pekerjaan, keluarga, dan identitasnya. Ia adalah korban dari sistem yang gagal, namun dunia tetap memandangnya sebagai monster.
Berbeda dengan film bencana pada umumnya yang fokus pada ledakan saat kejadian, Aftermath justru fokus pada “rongsokan” kehidupan manusia setelah api padam. Film ini memaksa kita bertanya, “Siapa yang sebenarnya bersalah ketika sebuah sistem yang kompleks gagal?”
Film ini jadi semakin menarik karena tidak banyak dialog dramatis, namun ketegangan dibangun melalui ekspresi wajah dan atmosfer yang dingin serta kelabu. Selain itu, latar belakang film ini yang mengambil referensi dari kisah nyata Vitaly Kaloyev memberikan bobot emosional yang jauh lebih berat bagi penonton yang mengetahui sejarahnya.









