Kualitas Layanan
Selain pembiayaan, Djoko menekankan perlunya pembenahan pengelolaan dan kualitas layanan. Efisiensi sumber daya manusia, penggantian armada bus usang, dan peningkatan pengawasan sangat penting agar operasional berjalan lancar.
Fasilitas halte juga perlu ditingkatkan. Penambahan sistem informasi transportasi publik (PTIS), kebersihan armada, dan pendingin udara akan membuat penumpang lebih nyaman.
Pelatihan berkala untuk pengemudi dan awak bus juga penting untuk meningkatkan pelayanan. Kesejahteraan pekerja harus diperhatikan agar motivasi dan kinerja meningkat.
Djoko memberikan beberapa rekomendasi kepada Pemerintah Kota Semarang. Salah satunya, menggalakkan budaya penggunaan angkutan umum dengan mewajibkan aparatur sipil negara (ASN) bergantian menggunakan Trans Semarang.
Jika Walikota dan Wakil Walikota rutin menggunakan layanan ini minimal sekali seminggu, masyarakat akan mendapat contoh nyata untuk beralih ke transportasi umum.
Usulan lain adalah memisahkan pengelolaan BLU UPTD Trans Semarang dari Dinas Perhubungan agar langsung di bawah Walikota. Dengan begitu, Dinas Perhubungan bisa fokus pada tugas lain seperti pemeliharaan marka jalan dan fasilitas keselamatan.
Kabar baiknya, rencana pembangunan jalur khusus (dedicated lane) untuk Bus Rapid Transit (BRT) di Semarang akan dimulai pada 2026. Ini langkah strategis untuk meningkatkan kecepatan dan ketepatan waktu pelayanan.

BACA JUGA:Â Banyak yang Salah Paham, Ternyata Ini Maksud Komdigi soal Aturan Gratis Ongkir Dibatasi
Oleh karena itu, Djoko optimis, dengan jalur khusus, Trans Semarang bisa menarik lebih banyak pengguna dan mendukung terciptanya sistem transportasi publik yang handal dan modern di Kota Semarang.










