RUANGBICARA.co.id – Paradigma mengenai keberhasilan arus mudik Lebaran dinilai perlu diubah. Selama ini, keberhasilan mudik sering diukur dari kelancaran arus lalu lintas di jalan tol maupun jalur utama. Namun, pakar transportasi menilai ukuran tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kualitas sistem transportasi nasional.
Dosen Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata sekaligus Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menegaskan bahwa indikator kesuksesan mudik seharusnya dilihat dari meningkatnya jumlah pemudik yang beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum.
BACA JUGA: Janji Subsidi Transportasi Umum Prabowo-Gibran Ditagih Pakar hingga Singgung Soal Ini
Menurutnya, transformasi wajah mudik Indonesia memang terlihat jelas dalam beberapa tahun terakhir seiring masifnya pembangunan infrastruktur jalan tol, terutama setelah tersambungnya jaringan Tol Trans Jawa dari Jakarta hingga Surabaya.
“Namun di balik kelancaran tersebut, kita perlu menggugat paradigma lama tentang kesuksesan mudik. Tolok ukurnya bukan lagi sekadar arus lalu lintas lancar, tetapi sejauh mana masyarakat beralih menggunakan transportasi umum,” kata Djoko dalam keterangan resminya, Rabu (11/3/2026).
Jumlah Pemudik
Berdasarkan Survei Angkutan Lebaran 2026 yang dilakukan Kementerian Perhubungan bersama Badan Pusat Statistik, Kementerian Komunikasi dan Digital, serta Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri Institut Teknologi Bandung, jumlah pemudik tahun ini diprediksi mencapai 143,9 juta orang.
Dari jumlah tersebut, mayoritas masyarakat masih mengandalkan kendaraan pribadi. Persentasenya mencapai 69,72 persen atau sekitar 100,32 juta orang.
Rinciannya, mobil pribadi menjadi moda transportasi paling dominan dengan porsi 52,98 persen, sedangkan sepeda motor mencapai 16,74 persen.
Sementara itu, penggunaan transportasi umum masih berada di bawah angka tersebut. Moda bus menjadi pilihan terbesar dengan 16,22 persen atau 23,34 juta orang, diikuti kapal penyeberangan sebesar 4,45 persen (6,40 juta) dan pesawat terbang sebesar 3,46 persen (5,98 juta).
Adapun sisanya terbagi dalam beberapa moda lain, seperti kereta api antarkota sebesar 3,33 persen (4,79 juta), kereta api perkotaan 1,51 persen (2,17 juta), kapal laut 0,64 persen, serta kereta cepat sekitar 0,47 persen.
Infrastruktur Tol
Djoko mengakui pembangunan infrastruktur jalan bebas hambatan telah memberikan dampak positif terhadap kelancaran arus mudik. Sejak jaringan Tol Trans Jawa tersambung, perjalanan dari Jakarta menuju berbagai kota di Jawa menjadi jauh lebih lancar dibandingkan sebelumnya.
Selain itu, penerapan berbagai rekayasa lalu lintas seperti contraflow dan one way terbukti efektif mengurai kepadatan kendaraan pada periode puncak arus mudik dan balik.
Kondisi tersebut membuat fenomena pemudik yang terjebak macet total hingga harus bermalam di jalan kini hampir tidak lagi terjadi. Meski begitu, lonjakan volume kendaraan yang tidak sebanding dengan kapasitas jalan masih berpotensi menimbulkan kepadatan di sejumlah titik.
Untuk mendukung kelancaran arus mudik tahun ini, pemerintah menyiapkan enam ruas tol fungsional baru yang dapat digunakan secara sementara selama periode Lebaran.
Di Pulau Jawa, empat ruas yang disiapkan antara lain:











