Penjelasan Buya Yahya soal Tata Cara Sholat Gerhana Bulan, Ternyata Begini

  1. Berdiri membaca Al-Fatihah dan surat panjang.

  2. Rukuk.

  3. Berdiri kembali membaca Al-Fatihah dan surat.

  4. Rukuk kedua.

  5. I’tidal, lalu sujud seperti biasa.

  6. Bangkit untuk rakaat kedua dengan pola yang sama.

Buya Yahya menjelaskan bahwa dalam sholat gerhana dianjurkan membaca surat yang panjang. Bahkan dalam tingkatan paling sempurna (martabat pertama), setelah membaca Al-Fatihah pada rakaat pertama disunnahkan membaca surat sepanjang Surat Al-Baqarah atau setara dengannya.

Kemudian pada berdiri kedua rakaat pertama diperkirakan membaca sekitar 200 ayat. Pada rakaat kedua, masing-masing berdiri membaca sekitar 150 ayat dan 100 ayat.

Namun beliau juga menegaskan bahwa tingkatan ini sangat jarang diamalkan karena panjangnya bacaan.

Tiga Martabat

Buya Yahya membagi pelaksanaan sholat gerhana menjadi tiga tingkatan:

1. Martabat Pertama (Paling Sempurna)

Bacaan sangat panjang seperti penjelasan di atas, dengan empat rukuk dan bacaan ratusan ayat.

2. Martabat Kedua (Umum Dilakukan)

Dilaksanakan dua rakaat dengan empat rukuk, tetapi bacaan tidak sepanjang martabat pertama. Ini yang paling sering diamalkan di masyarakat.

3. Martabat Ketiga

Dilaksanakan seperti dua rakaat sholat sunnah biasa (mirip sholat dhuha), tanpa memanjangkan bacaan. Meski paling sederhana, tetap sah.

Bacaan Dikeraskan atau Dipelankan?

Dalam penjelasannya, Buya Yahya membedakan antara gerhana matahari dan gerhana bulan:

  • Gerhana matahari (kusuf): Bacaan dipelankan (sirr), seperti sholat Zuhur.

  • Gerhana bulan (khusuf): Bacaan dikeraskan (jahr), sebagaimana sholat malam.

Karena yang dibahas adalah gerhana bulan, maka bacaan dalam sholat khusuf dianjurkan untuk dikeraskan.

Disunnahkan Dua Khutbah Setelah Sholat

Setelah pelaksanaan sholat gerhana, disunnahkan menyampaikan dua khutbah. Rukun dan syarat khutbahnya sama seperti khutbah Jumat, termasuk berdiri dan memenuhi rukun khutbah.

Namun dalam praktiknya, ada juga yang menyampaikan satu khutbah, meski yang dianjurkan adalah dua khutbah sebagaimana dijelaskan para ulama.

Dari penjelasan Buya Yahya, dapat disimpulkan bahwa sholat gerhana bulan merupakan sunnah muakkad yang sangat dianjurkan, dapat dilakukan berjamaah maupun sendiri, tidak bisa diqada setelah gerhana berakhir, serta memiliki tata cara khusus dengan dua rakaat dan empat rukuk.

BACA JUGA: Viral di Panggung ‘Mens Rea’, Apa Itu Sholat Safar? Mengenal Ibadah Penting Bagi Para ‘Musafir’ Modern

Umat Islam dianjurkan untuk memanfaatkan momen gerhana sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui sholat, doa, dan memperbanyak dzikir.

Semoga penjelasan ini membantu memahami tata cara sholat gerhana bulan sesuai tuntunan para ulama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *