Faktanya secara medis
Dokter Tirtawati Wijaya sebelumnya telah memberikan penjelasan terkait hal ini melalui kanal YouTube pribadinya. Ia menegaskan bahwa gagal ginjal bukanlah penyakit yang disebabkan oleh konsumsi ikan lele, melainkan akibat berbagai faktor medis yang kompleks.
Menurutnya, gagal ginjal merupakan kondisi ketika ginjal tidak lagi mampu menjalankan fungsinya dengan baik, terutama dalam menyaring racun dari tubuh. Penyakit ini umumnya berkembang secara kronis dalam jangka waktu panjang.
“Sebagian besar kasus gagal ginjal terjadi karena hipertensi atau tekanan darah tinggi. Kondisi ini merusak pembuluh darah kecil di ginjal sehingga fungsinya menurun secara bertahap,” jelasnya, dikutip Kamis (16/4/2026).
Selain hipertensi, diabetes atau kencing manis juga menjadi penyebab utama lainnya. Penyakit ini dapat merusak jaringan tubuh, termasuk pembuluh darah di ginjal, jika tidak terkontrol dalam jangka panjang.
Faktor lain yang turut berkontribusi antara lain paparan asap rokok, konsumsi alkohol, penyakit autoimun seperti lupus, serta faktor genetik seperti polycystic kidney disease.
Gagal ginjal juga bisa terjadi secara akut akibat kondisi tertentu, seperti infeksi berat. Dalam kasus ini, pasien biasanya memerlukan penanganan sementara hingga fungsi ginjal pulih.
Lebih lanjut, dr. Tirtawati menegaskan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan konsumsi ikan lele, termasuk yang dibudidayakan dengan antibiotik, menjadi penyebab langsung gagal ginjal.
“Dengan demikian, gagal ginjal bukan disebabkan oleh konsumsi lele yang disuntik antibiotik, melainkan oleh berbagai faktor medis yang terjadi dalam jangka panjang maupun kondisi tertentu yang bersifat akut,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga pola hidup sehat sebagai langkah pencegahan, seperti mengontrol tekanan darah dan gula darah, menghindari rokok dan alkohol, serta rutin berolahraga.
BACA JUGA: Air Mata Sri Wulansih Tumpah, Apartemen Milik Julia Perez Dijual ke Raffi Ahmad
Kesimpulannya, informasi yang beredar di media sosial tersebut perlu disikapi dengan bijak. Masyarakat diimbau untuk tidak mudah percaya pada klaim yang belum terbukti secara ilmiah dan selalu mengacu pada sumber terpercaya dalam menjaga kesehatan.












