Viral Zikir di Candi Prambanan, Abu Janda: Emangnya Candinya Bakal Jadi Mualaf Gitu?

RUANGBICARA.co.id, Jakarta – Aksi sekelompok orang yang melakukan zikir di kawasan Candi Prambanan mendadak viral di media sosial. Peristiwa ini pun menuai beragam reaksi publik, termasuk dari pegiat media sosial dan aktivis kebebasan beragama, Heddy Setya Permadi alias Abu Janda.

Zikir tersebut dilakukan di pelataran Candi Prambanan, yang diketahui merupakan candi bercorak agama Hindu terbesar di Indonesia dan dibangun pada abad ke-9 Masehi. Selain itu, candi yang berada di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, itu juga berstatus sebagai cagar budaya nasional dan warisan dunia UNESCO.

BACA JUGA: Viral Penolakan Uang Tunai, BI Tegaskan Rupiah Wajib Diterima di Indonesia

Menanggapi video yang beredar luas, Abu Janda mempertanyakan alasan zikir dilakukan dengan suara keras di kawasan candi. Melalui akun Instagram pribadinya, ia menilai tindakan tersebut tidak tepat dilakukan di ruang publik dan situs bersejarah.

“Ini lagi viral banget, zikir teriak-teriak ‘lailaha ilallah’ di Candi Prambanan. Ngapain coba zikir teriak-teriak di candi umat Hindu?” tulis Abu Janda, dikutip Rabu (31/12/2025).

Selain itu, ia menegaskan bahwa beribadah seharusnya tidak mengganggu kenyamanan orang lain, terlebih di lokasi wisata yang dikunjungi banyak orang.

Lebih lanjut, Abu Janda menilai zikir sebenarnya tidak dilarang dilakukan di mana pun selama tidak mengganggu pihak lain. Namun, menurutnya, melantunkan zikir dengan suara keras dapat mengusik kenyamanan wisatawan yang sedang berlibur.

“Enggak ada yang larang zikir di candi atau gereja sekalipun selama dibaca dalam hati. Tapi ini sambil teriak-teriak, jadi ganggu wisatawan yang lagi liburan di situ. Aduh kenapa sih suka banget gangguin orang, lagian emangnya kalau dizikirin candinya bakal jadi mualaf gitu?,” ujarnya.

Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat untuk lebih memahami batasan dalam beribadah di ruang publik.

Tak hanya itu, Abu Janda juga membuat perbandingan jika situasi serupa terjadi di tempat ibadah agama lain. Menurutnya, tindakan tersebut bisa memicu persoalan serius.

“Coba kalau dibalik, umat Kristen bawa gitar nyanyi lagu rohani di masjid, kira-kira gimana?” katanya.

Dengan pernyataan tersebut, ia menekankan pentingnya sikap saling menghormati antarumat beragama demi menjaga kerukunan, terutama di tempat bersejarah dan ruang publik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *