Andai Saja Mantan Koruptor Tak Ada Lagi, Mungkin PPP Lebih Baik

Syaifullah bercerita, masih ingat betul ketika menerima pesan singkat yang memberi tahu bahwa Suharso telah mundur. Namun, kabar itu terbantahkan setelah ia menelpon langsung Suharso yang kala itu berada di Doha. “Beliau bilang tidak pernah mengundurkan diri,” tegasnya dalam podcast Akbar Faizal Uncensored.

Keesokan harinya, pertemuan di Jakarta memperlihatkan ketegangan. Bahkan, sempat hampir terjadi adu fisik antara Rommy dengan anak Suharso. Situasi semakin panas ketika Rommy menekan Suharso untuk mundur. “Kalau Bapak tidak mau mundur, jangan harap ada caleg DPR RI 2024 dari PPP,” kata Rommy seperti ditirukan Syaifullah.

Tak hanya itu, Rommy juga sempat menelpon Syaifullah untuk menuduhnya menghasut. Namun, ia menepis tudingan tersebut. “Saya ini tim perumus ADRT. Saya tahu pasal mana yang dilanggar,” ujarnya.

Saatnya Bercermin

Bukankah ini saatnya PPP bercermin untuk ber-muhasabah? Seandainya para koruptor seperti Rommy tak pernah menodai partai, mungkin PPP hari ini lebih teduh. Tak perlu rebutan kursi hingga pukul-pukulan, saling klaim, dan gontok-gontokan yang ujung-ujungnya hanya membuat suara partai makin terjun bebas. Tak perlu wajah politik Islam dipermalukan oleh kelakuan para elitenya sendiri.

PPP adalah rumah besar umat Islam. Tetapi jika rumah ini terus digerogoti “tikus” yang doyan uang haram, penghuninya akan kedinginan dan basah kuyup.

BACA JUGA: Bukan Warga PPP Dilarang Klaim Ketua Umum!

Seharusnya, Muktamar X bukan hanya tempat memilih ketua umum, tetapi juga arena koreksi diri. Memastikan PPP kembali ke khittahnya sebagai partai Islam yang menegakkan amar makruf nahi munkar, bukan arena perebutan legitimasi yang membuat umat jengah.

Andai saja, ya andai saja, para koruptor itu tak pernah masuk ke PPP, mungkin partai ini sudah jadi contoh teladan: partai Islam yang bukan hanya bicara moral, tetapi hidup dengan moral.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *