RUANGBICARA.co.id – Harapan akan perdamaian di Timur Tengah tampak semakin tipis. Dalam forum diskusi di salah satu stasiun TV swasta, Prof. Yon Mahmudi menyoroti pernyataan Donald Trump yang memprediksi operasi militer AS terhadap Iran bisa berlangsung selama 4 hingga 5 minggu (5/3/2026). Namun, menurut sang pengamat, durasi tersebut sudah jauh melampaui batas kemampuan dunia untuk bertahan.
Fokus utama kekhawatiran global adalah Selat Hormuz. Jalur sempit ini adalah urat nadi perdagangan minyak mentah dunia. Prof. Yon menjelaskan bahwa sekitar 20% pasokan minyak dunia atau sekitar 2 juta barel per hari melewati jalur ini.
BACA JUGA: Ini Solusi Air Bersih yang Dihadirkan ABB untuk Sekolah di NTT
“Jika Selat Hormuz ditutup bahkan hanya dalam hitungan hari, suplai minyak internasional akan sangat terganggu. Jika mencapai 4 minggu, ini sudah melebihi batas kemampuan kita untuk bertahan,” tegas Prof. Yon.
Dampak bagi Indonesia tidak bisa dianggap remeh. Prof. Yon mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa cadangan minyak nasional Indonesia hanya mampu bertahan sekitar 20 hari.
Jika konflik terus memanas, pemerintah harus segera melakukan mitigasi ekstrem. Salah satunya adalah mencari alternatif suplai minyak dari Amerika Serikat, meskipun ini tentu akan mengoreksi APBN secara signifikan akibat kenaikan harga komoditas logistik global.









