Sikap kerasnya juga terlihat dalam kebijakan imigrasi. Ia menyerukan pembatasan tenaga kerja asing dan meniru retorika partai sayap kanan Sanseito yang tengah naik daun. Dalam kampanyenya, Takaichi sempat menyinggung insiden tak terbukti tentang turis yang “menendang rusa suci” di Nara — narasi simbolik yang memperkuat citra nasionalismenya.
Kontroversi juga muncul dari kebiasaannya mengunjungi Kuil Yasukuni, tempat yang kerap memicu ketegangan dengan Korea Selatan dan Tiongkok karena dianggap memuliakan pelaku perang. Tak heran, sebagian media asing menjulukinya “perempuan besi berjiwa Abe,” merujuk pada mantan mentornya, Shinzo Abe.
Antara Ketegasan
Meski dikenal keras, Takaichi tetap menunjukkan sisi pragmatis dalam menjaga stabilitas politik. Ia setuju dengan usulan oposisi untuk menghapus pajak bahan bakar yang sudah berlaku selama setengah abad demi menekan inflasi. Dalam kebijakan luar negeri, ia menegaskan pentingnya aliansi trilateral Jepang–AS–Korea Selatan, namun tetap berusaha menenangkan kekhawatiran bahwa retorika nasionalisnya dapat merusak hubungan diplomatik yang baru pulih.
Selain itu, pernyataannya yang menyebut Taiwan sebagai “mitra sahabat penting” menjadi sinyal kuat bagi Washington, namun juga berisiko memperkeruh hubungan dengan Beijing. Ia menegaskan bahwa Jepang harus “bersikap tegas terhadap hal-hal yang tidak adil dan merugikan kepentingan nasional,” termasuk dalam kesepakatan investasi senilai 550 miliar dolar AS dengan Amerika Serikat.
Kini, mata dunia tertuju pada Tokyo. Sanae Takaichi berdiri di persimpangan antara simbol kemajuan dan sumber perdebatan. Ia memikul dua tanggung jawab besar: membuktikan bahwa Jepang siap dipimpin oleh perempuan, dan menjaga keseimbangan antara tradisi serta perubahan.
Apakah Takaichi akan dikenang sebagai pemimpin perempuan yang membawa terobosan baru, atau justru sebagai sosok konservatif yang mempertahankan nilai lama Jepang? Waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal pasti — dunia politik Jepang tidak akan pernah sama lagi setelah kemunculannya di panggung tertinggi kekuasaan.












