Tan Malaka: Perlunya Persatuan antara Komunisme dan Pan-Islamisme

Gerakan Pan-Islamisme lahir sebagai respons terhadap invasi imperialisme Barat ke dunia Islam dan negara-negara Islam. Dalam perspektif sejarah, faktor inilah yang melatarbelakangi munculnya kesadaran akan perlunya dukungan terhadap gerakan ini, seperti yang diungkapkan oleh Tan.

Tan menyatakan bahwa Pan-Islamisme perlu didukung, meskipun ia menyadari bahwa keputusan sepenuhnya berada di tangan petinggi partai, yakni para Bolsyewik tua.

Baca juga: Takdir Negeri Lautan, Hanyalah Cerita Nenek Moyang

“Maka dari itu, saya bertanya sekali lagi, haruskah kita mendukung Pan-Islamisme,” kata Tan Malaka di akhir pidatonya dalam forum Komintren.

Meskipun ide persatuan antara Pan-Islamisme dan komunisme mendapat apresiasi dari delegasi Asia, tawaran tersebut ditolak dalam kongres. Dianggap tidak revolusioner, pimpinan Komintren wilayah Asia, Karl Radek, tidak terlalu menyukai ide tersebut.

Perjalanan Setelah Kongres

Setelah kongres, Tan Malaka yang diasingkan merasa bingung mengenai arah selanjutnya. Dengan tak mungkin kembali ke Indonesia atau ke Belanda, ia mencoba meminta Komintren untuk menyekolahkannya, tetapi permintaannya ditolak.

Dengan keputusasaan, Tan Malaka akhirnya menghabiskan waktunya di Moskow sebagai pengangguran. Meskipun demikian, ia tidak lama kemudian menemukan pekerjaan yang cukup menarik di sana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *