RUANGBICARA.co.id – Kehadiran jaringan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) diprediksi akan menjadi faktor penting yang mengubah pola perjalanan mudik di Pulau Sumatera pada Lebaran 2026. Infrastruktur yang semakin terhubung dinilai mampu memangkas waktu tempuh perjalanan secara signifikan sekaligus meningkatkan kenyamanan serta keselamatan pemudik.
Pengamat Transportasi, Djoko Setijowarno, menyebut perkembangan Jalan Tol Trans Sumatera saat ini telah mencapai tahap yang sangat signifikan dan siap menjadi solusi utama mobilitas masyarakat saat musim mudik.
BACA JUGA: Jalan Rusak di Perlintasan KA Bisa Berujung Penjara 5 Tahun
Menurut Djoko, transformasi jaringan tol yang dikelola oleh PT Hutama Karya (Persero) telah mencapai panjang 822,609 kilometer yang tersebar di berbagai ruas strategis. Jaringan ini dinilai menjadi “urat nadi konektivitas” yang memperkuat mobilitas antarwilayah di Pulau Sumatera.
“Menjelang Mudik Lebaran 2026, jaringan tol ini siap menjadi solusi mobilitas utama yang mampu membuat perjalanan mudik lebih efisien dan nyaman bagi masyarakat,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima Ruang Bicara, Jumat (6/3/2026).
Jaringan Tol Semakin Terhubung
Hingga Agustus 2025, pembangunan dan operasional jaringan tol di Sumatera menunjukkan progres pesat. Dari total 822,609 kilometer jalan tol yang dikelola Hutama Karya, sebanyak 692,854 kilometer atau 12 ruas telah beroperasi penuh dengan tarif normal.
Selain itu, terdapat ruas Betung–Tempino–Jambi Seksi 3 sepanjang 52,2 kilometer yang sudah mulai dioperasikan namun masih belum dikenakan tarif. Kehadiran ruas ini diharapkan dapat membantu memperlancar mobilitas kendaraan pada arus mudik Lebaran 2026.
Tak hanya itu, sejumlah ruas juga akan difungsikan secara sementara untuk mengurai kepadatan lalu lintas. Total ruas fungsional yang siap dibuka mencapai 77,555 kilometer, meliputi ruas Sigli–Banda Aceh Seksi 1 serta ruas Palembang–Betung Seksi 1 dan 2.
Beberapa ruas tol operasional yang telah melayani pengguna antara lain Sigli–Banda Aceh Seksi 2–6 sepanjang 48,584 kilometer, Pekanbaru–Kota Kampar 34,95 kilometer, Pekanbaru–Dumai 131,69 kilometer, serta Padang–Sicincin sepanjang 35,45 kilometer.
Selain itu terdapat ruas Bengkulu–Taba Penanjung sepanjang 16,725 kilometer, Binjai–Langsa 57,225 kilometer, dan Indrapura–Kisaran sepanjang 47,75 kilometer.
Sementara di wilayah Sumatera Selatan hingga Lampung, jaringan tol yang beroperasi mencakup Palembang–Indralaya 21,93 kilometer, Indralaya–Prabumulih 63,5 kilometer, serta ruas Terbanggi Besar–Kayu Agung sepanjang 189,4 kilometer yang menjadi salah satu ruas terpanjang di jaringan JTTS.
Djoko menilai kehadiran jaringan tol ini telah membawa perubahan besar dalam efisiensi perjalanan di Pulau Sumatera. Salah satu dampak paling terasa adalah pemangkasan waktu tempuh perjalanan yang sebelumnya sangat panjang.
Perjalanan dari Jakarta menuju Palembang yang sebelumnya membutuhkan waktu sekitar 15 hingga 20 jam kini dapat ditempuh hanya sekitar 8 hingga 10 jam, termasuk waktu penyeberangan dari Merak menuju Bakauheni.
Efisiensi serupa juga terjadi pada rute Palembang menuju Betung yang sebelumnya kerap terjebak kemacetan di jalur lintas timur Sumatera. Dengan adanya tol, perjalanan tersebut diperkirakan hanya memakan waktu sekitar satu jam.
Sementara itu, perjalanan dari Medan menuju kawasan wisata Danau Toba kini dapat ditempuh dalam waktu sekitar dua hingga tiga jam, jauh lebih singkat dibanding sebelumnya yang bisa mencapai empat hingga enam jam.
“Secara keseluruhan, kehadiran JTTS mampu memangkas rata-rata waktu perjalanan hingga 50 persen di berbagai wilayah Sumatera,” jelas Dosen Program Studi Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata tersebut.









