Dalam menjalankan tugas sebagai Wali Kota, Gibran menerapkan cara berpikir layaknya seorang Chief Executive Officer (CEO) atau pemimpin perusahaan.
Terlebih jika dibanding dengan daerah lain, Solo praktis tidak memiliki sumber daya yang memadai sebagai potensi pendapatan daerah.
Baca juga:Â Herman Darnel Ibrahim: Dua Misi dalam Satu Aksi
“Solo ini tricky, nggak punya pertanian, nggak punya pertambangan, nggak punya perikanan, nggak punya apa-apa benar, itu benar. Makanya harus segera kita ubah cara kerja kita,” kata Gibran.
“Saya pertama kerja (menjadi Wali Kota), ya ASN nggak bisa cara berpikir seperti ini. Terus ini, perlu cara-cara berpikir seperti CEO. Karena kotanya nggak punya apa-apa, kita harus create (menciptakan) sesuatu. Tempat-tempat yang sebelumnya jelek kita percantik,” imbuh dia.
Kepuasaan Masyarakat Berujung Elektabilitas Meningkat
Capaian kinerja Gibran ternyata cukup dirasakan oleh masyarakat.
Belum lama ini, Universitas Slamet Riyadi (Unisri) merilis hasil survey terkait indeks kepuasaan masyarakat terhadap kinerja Gibran.
Hasilnya, 96 persen responden mengaku puas dengan kinerja Gibran.
“Tingkat kepuasan masyarakat dua tahun pemerintahan Gibran dan Teguh sebesar 96 persen dengan jumlah score 1.709 serta IKM 3,057 dengan kategori memuaskan. Ini meningkat 2 persen dari tahun kemarin,” sebut Ketua Magister Administrasi Publik Unisri.
Survei tersebut diambil dari 560 responden di 56 titik Kota Solo.
Dan entah sebuah kebetulan tidak, capaian kinerja Gibran juga semakin membuat namanya melambung.
Bahkan baru-baru ini, Lembaga Survei Indonesia (LSI) merilih hasil survey terkait peta kompetisi pemilihan Presiden (pilpres) 2024 mendatang.
Nama Gibran mencuat sebagai salah satu calon Wakil Presiden dengan elektabilitas yang tinggi, mengalahkan nama-nama politisi senior seperti Airlangga Hartarto, Andika Perkasa, hingga Puan Maharani.
Menarik untuk terus melihat bagaimana terobosan-terobosan yang akan dikerjakan oleh Gibran.
Dan untuk selanjutnya, apakah sudah saatnya bagi Gibran untuk memperluas wilayah pengabdian?











1 komentar